Header Ads

Family Trip ke Lombok (6D5N) Bagian 2: Gili Trawangan, Senggigi dan Ampenan





Sambungan dari Family Trip ke Lombok (6D5N) Bagian 1

Menikmati Sunrise di Gili Trawangan

Setelah kemarin jalan-jalan ke air terjun Benang Kelambu dan Pantai Kuta Lombok, hari ini kami berangkat menuju Gili Trawangan. Perjalanan Gili Trawangan bisa melalui daerah pegunungan Pusuk atau menyusuri pesisir pantai selatan lombok. Untuk berangkat, kami memilih melalui Pusuk. Pusuk merupakan daerah pegunungan dengan hutan yang rimbun dan tentu saja adem. Dalam perjalananan melewati daerah Pusuk, kita bisa melihat monyet yang nangkring di pinggir jalan, menunggu yang bersedia memberi mereka makanan.

Setelah dari Pusuk, kita tiba di pantai Bangsal untuk menyebrang ke Gili Trawangan. Terdapat 3 Gili, Gili terdekat disebut Gili Air, kemudian selanjutnya Gili Meno dan paling ujung Gili Trawangan. Menurut penduduk sana, pemandangan di ketiga Gili tersebut semuanya bagus-bagus. Tetapi yang paling ramai dikunjungi dan paling siap infrastrukturnya adalah Gili Trawangan.

Untuk menyebrang ke Gili Trawangan kita bisa naik Public Boat atau Perahu Umum, angkot versi perahu, hehe. Untuk naik public boat kita harus membeli tiket seharga 15 ribu per orang. Anak-anak dihitung bayar setengahnya, ditambah dengan biaya tiket masuk dan uang kebersihan sekitar 2000 rupiah per orang. Jika berminat untuk charter satu perahu, silahkan menyiapkan budget sekitar 500 ribu.

Public Boat untuk penyebrangan ke Gili Trawangan

Jika tidak charter, kita harus menunggu hingga jumlah penumpang minimal 25 orang maksimal 40 orang sebelum perahu diberangkatkan. Jika ingin lebih nyaman dan lebih cepat bisa memilih menggunakan fast boat dengan tarif 85 ribu per orang.

Waktu tempuh penyebrangan ke Gili trawangan menggunakan public boat sekitar 20 menit, jika menggunakan fast boat sekitar 10 menit dengan kondisi ombak yang relatif tenang tanpa goncangan yang berarti.

Suasana di dalam public boat, aslinya ga gelap seperti difoto ini, tapi terang benderang karena tidak tertutup.
Sesampainya di Gili Trawangan, kembali kami takjub dengan kondisi pantai disana. Sangat bersih, dengan pasir yang putih. Kondisi Gili Trawangan dekat pelabuhan penyeberangan cukup ramai dengan deretan restoran di sepanjang pantai. Kami langsung mencari penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya.

Penginapan yang kami sewa berupa rumah dengan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur dan ruang tengah. Di ruang tengah juga disediakan kasur, sehingga total kapasitas minimal 6 orang dewasa. Sudah lebih dari cukup dari yang kami butuhkan. Sayang memang tidak disediakan pendingin ruangan AC, cuma disediakan kipas angin saja. Cukup wajar sih, dengan harga yang hanya 600 ribu per malam untuk kapasitas hingga 6-10 orang, tersedia juga kompor gas di dapur untuk sekedar menyeduh kopi atau memasak mie instant. Seperti laiknya penginapan-penginapan dikawasan wisata, harga sewa bisa berubah sewaktu-waktu, semakin ramai semakin tinggi harga sewanya.

Suasana di depan penginapan, sederhana tapi cukup bersih
Hari menjelang sore hari, anak-anak sudah tidak sabar untuk segera berenang di pantai. Kami pun antusias untuk menikmati pantai sore itu, walaupun tidak kebagian sunset karena kami berada di sebelah timur pulau. Jika ingin keliling di pulau, bisa menyewa sepeda seharga 30-50 ribu sepuasnya karena di Gili trawangan tidak diperbolehkan ada kendaraan bermotor. Selain sepeda kita bisa naik delman (disana disebutnya Cikar) sebagai sarana transportasi selama disana. Cukup unik dan sangat berkesan.

Pantai Gili Trawangan, berpasir putih, bersih dengan air yang jernih
Jalan-jalan di malam hari di Gili Trawangan juga cukup seru, bagi yang hobi kuliner bisa mencoba pasar kuliner yang terletak tidak jauh dari dermaga. Disana tersedia berbagai jenis masakan, mulai dari seafood segar yang siap diolah sesuai yang diinginkan, hingga makanan nasi rames dengan aneka ragam pilihan menu sesuai selera.Berhubung badan sudah cukup lelah, malam itu kami sudah balik ke penginapan sebelum jam 10 malam tertidur dengan pulas walaupun tanpa pendingin AC.

Subuh-subuh, anak-anak sudah ribut ingin main ke pantai, menikmati matahari terbit sambil berenang di pagi hari. Masha Allah, pemandangan pantai yang indah menjelang pagi di Gili Trawangan memang luar biasa.

Menikmati suasana sunrise di Gili Trawangan
Jika berminat snorkeling, kita bisa membayar 100 ribu per orang sudah termasuk perahu dan perlengkapan snorkeling. Tapi kita harus menunggu hingga 8 orang sebelum perahu bisa berangkat. Jika berminat kita bisa menyewa Glass Bottom Boat yaitu perahu dengan bagian tengahnya dilubangi dan dilapisi kaca sehingga kita bisa melihat langsung kondisi terumbu karang yang indah. Biaya sewa perahu bervariasi, yang menawarkan ke kami seharga 750 ribu untuk 6 orang dewasa termasuk dengan perlengkapan snorkeling dan instrukturnya.

Setelah kegiatan berenang dan sarapan, kami sudah harus siap-siap untuk cek out dan kembali ke lombok. Sayang memang kami belum sempat untuk keliling pulau Gili Trawangan, sekaligus jalan-jalan ke Gili Meno dan Gili Air, yang katanya menawarkan lokasi-lokasi snorkeling dengan terumbu karang yang indah. Mungkin harusnya di Gili Trawangan menginap minimal 2 malam, agar bisa maksimal mengeksplorasi keindahan alam disana.




Memburu Sunset di Pantai Ampenan

Setelah kembali pulang ke Lombok, rute pulang kali ini melalui pesisir pantai senggigi. Kami mampir dulu di pantai Nipah. Ternyata pantai Nipah tidak berbeda dengan pantai di Gili Trawangan, airnya sangat jernih dengan pasir yang bersih. Kami singgah di gazebo yang tersedia di pinggir pantai (ya iyalah, kalau di tengah pantai tenggelem dong..). Menikmati semilir angin pantai yang sejuk bikin mata sedikit terkantuk. Di pantai Nipah, selain berenang kita bisa menyewa canoe lengkap dengan pelampungnya, jadi bisa lebih puas menikmati pantai.

Setelah istirahat di rumah saudara di Mataram, kami lanjutkan petualangan pantai kami hari itu ke pantai Ampenan. Suasana pantai Ampenan, sangat ramai!, mungkin karena bertepatan dengan lebaran topat (lebaran ketupat), tradisi khas warga lombok barat setiap seminggu setelah lebaran. Tersedia berbagai macam dagangan dan keramaian disana, mulai dari yang bikin panggung kampanye, jualan makanan khas lombok, hingga jualan hewan peliharaan, lengkap sudah.

Sedangkan untuk kondisi pantainya, pantai Ampenan cenderung "biasa aja" tidak memiliki pasir yang putih atau air yang jernih. Tetapi bagi yang ingin menikmati sunset, maka pantai Ampenan merupakan pilihan yang tepat.

Sunset di Pantai Ampenan

sunset di pantai Ampenan

sunset di pantai Ampenan


Simak terus perjalanan kami di Lombok pada hari selanjutnya di Family trip ke Lombok (6D5N) Bagian 3: Pantai Pink

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.